Notifikasi
General

Kenapa KH Sholeh Darat Layak Menjadi Pahlawan Nasional


BANGSA
ini mengenal pahlawan di garis depan sejarah. Nama mereka tertulis di monumen, di buku pelajaran, dan arsip negara. 

Namun bangsa ini kerap lupa pada mereka, yang bekerja di ruang paling mendasar mendidik ketika senjata gagal, menafsirkan ketika kebodohan dipelihara, dan menyalakan kesadaran tanpa pernah menuntut sorak kemenangan.

KH Sholeh Darat

adalah salah satunya.


KH Sholeh Darat bukan sekadar ulama tradisional. Ia adalah guru dari guru bangsa: KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan RA Kartini tiga tokoh yang telah diakui negara sebagai Pahlawan Nasional.

Dalam sejarah bangsa mana pun, peran seorang guru yang melahirkan para pendiri peradaban bukanlah peran kecil.


Di abad ke-19, ketika penjajahan bekerja bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan melarang rakyat belajar, membatasi akses kitab, dan mengekang kemampuan memahami agamanya sendiri.

KH Sholeh Darat memilih jalan paling berisiko: jalan pengetahuan. Ia menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa, agar rakyat jelata memahami agamanya sendiri.

Pada masa kolonial, tindakan ini bukan sekadar dakwah ini adalah perlawanan kultural yang nyata.


Namun di sinilah ketimpangan sejarah terjadi. Murid-muridnya dikenang sebagai pahlawan bangsa, sementara sang guru masih berdiri di pinggir pengakuan resmi negara.

Padahal tanpa KH Sholeh Darat, arah Islam Indonesia, arah pendidikan umat, bahkan kesadaran kebangsaan modern tidak akan pernah sama.


KH Sholeh Darat tidak memimpin pasukan, namun ia membentuk cara berpikir. Ia tidak merebut kekuasaan, namun ia membebaskan manusia.

Dari majelis kecil dan karya-karyanya, lahir Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan kesadaran emansipasi, RA Kartini.

Ini adalah pengaruh strategis, lintas generasi, dan menentukan arah bangsa.


Sejarah tidak diukur dari seberapa keras suara dicatat, melainkan dari seberapa lama pengaruhnya bekerja. Pemikiran KH Sholeh Darat masih hidup hingga hari ini terpatri di pesantren, mengalir dalam organisasi keagamaan, dan membentuk cara bangsa ini memahami Islam.


Menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Sholeh Darat bukan sekadar menambah satu nama dalam daftar.

Ini adalah sikap negara dalam menghormati ilmu, guru, dan perjuangan intelektual yang membentuk Indonesia modern. Karena tanpa pendidikan dan pengetahuan, kemerdekaan tidak pernah berfungsi sepenuhnya. []

KETIKA agenda pementasan berjudul “Labuhan Kyai Sholeh Darat” digelar, saya menyiapkan sebuah narasi sebagai penutup. Narasi itu sengaja ditulis untuk menegaskan satu hal: bahwa KH Sholeh Darat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Sayangnya, narasi itu akhirnya tidak dibacakan di atas panggung. Meski begitu, saya memutuskan untuk mendokumentasikannya di laman website ini. 

Dengan begitu, meskipun tidak tampil membacakan di hadapan penonton langsung, setidaknya narasi itu tetap bisa dibaca, diakses, dan dinikmati oleh lebih banyak orang dibandingkan hanya tersimpan di folder laptop.

Narasi ini saya tulis dengan gaya argumentatif-struktural. Artinya, setiap kalimat dan paragraf dibangun secara sistematis: ada fakta yang jelas, realita yang bisa dibuktikan, ketimpangan yang menonjol, refleksi yang logis, kesadaran yang dibangun, dan arah perubahan yang konkret.

Gaya ini bukan sekadar membuat pembaca “terharu” atau “tergerak”, tapi juga memastikan setiap pernyataan dapat dipertanggungjawabkan secara sejarah, moral, dan logika.

Meski gaya ini terasa lebih formal dibandingkan narasi panggung yang puitis, saya percaya ini justru menegaskan posisi KH Sholeh Darat: seorang tokoh nyata dengan pengaruh yang nyata, yang jasanya bisa dibaca, diikuti, dan dijadikan alasan kuat bagi bangsa untuk memberi penghormatan yang layak.

Jadi, meski kata-kata ini tidak sempat terdengar oleh telinga penonton pada hari itu, saya berharap mereka tetap sampai ke hati pembaca. 

Semoga narasi ini bisa menjadi salah satu cara kecil untuk mengenang, memahami, dan menghargai KH Sholeh Darat sang guru bangsa, yang perjuangannya melalui ilmu dan kesadaran membentuk arah Indonesia modern. [Lukni Maulana]

Kembali ke atas